Jumat, 17 Februari 2012

[Aku dan FLP] Kembara Mimpi

Kembara Mimpi


Sebuah perkenalan
            Seseorang pernah berceloteh tentang kegilaan saya terhadap buku hanyalah sebuah kutukan, bukan anugerah yang pantas untuk disyukuri, apalagi sebuah prestasi yang harus dibanggakan. Ya, mungkin memang kutukan, padahal saya baru bisa membaca ketika duduk di bangku kelas dua SD lalu secepat kilat menguasai buku-buku di perpustakaan sekolah. Buku fiksi maupun nonfiksi habis saya baca sehingga banyak waktu yang terlewati hanya untuk membaca dan mencari buku.

            Sayangnya, kutukan ini tak juga mampu disembuhkan. Beranjak naik ke bangku SMP, SMA bahkan kuliah pun saya tetap tidak bisa menjauhkan diri dari buku. Ditambah lagi hampir semua kakak saya juga menyukai hal yang sama, gila baca. Ketika kakak saya yang kedua pulang kembali ke Bima setelah menempuh kuliah di Yogyakarta, banyak buku dan majalah yang dia bawa, karya-karya Kahlil Gibran, buku keagamaan dan majalah Annida.
            Perkenalan dengan sastra islam pun dimulai ketika membaca majalah Annida. Masa-masa labil sebagai ABG sedikit demi sedikit tercerahkan oleh banyaknya cerpen-cerpen yang memiliki hikmah luar biasa. Kecintaan dengan Annida mulai merambat pada rasa penasaran yang tinggi terhadap penulis-penulis yang ada di dalamnya, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Sakti Wibowo, Izzatul Jannah dan sederetan nama lain yang membuat rasa kagum menelisik.

            Saya mulai mengawali mimpi untuk bisa menjadi penulis sehebat mereka, menulis untuk mencerahkan hati yang mendung. FLP menjadi daya tarik tersendiri ketika saya tahu penulis-penulis hebat itu berada dalam naungan FLP. Rasa di dalam hati meletup-letup ingin berada dalam satu wadah bersama mereka. Sejak SMP sampai SMA saya terus mencari tahu tentang perkembangan FLP melalui Annida dan buku-buku kumpulan cerpen islami, memburu informasi untuk mengetahaui, adakah FLP di Bima?

            “Pipit Senja pernah ke Bima lho, Rin.” Ujar Mbak Tuty- mentor saya.
            “Hah? Beneran Mbak? Di mana? Kapan?”
            “Sudah agak lama sih, di Sila. Ada kegiatan FLP Bima.” Ungkap mbak Tuty.
            “Di Bima ada FLP, Mbak? Sumpah?” tanya saya tak percaya, Mbak Tuty pun tersenyum sambil mengangguk.
            Percakapan ini sudah cukup lama, sekitar lima tahun yang lalu. Percakapan yang membuat semangat saya semakin menjadi-jadi. Saya terus bertanya ke Mbak Tuty tentang kabar FLP Bima, siapa saja anggotanya, buku apa yang sudah diterbitkan dan mungkin Mbak Tuty sampai bosan mendengarnya.

            Mulai memberanikan diri membuat cerpen ketika berada di bangku kuliah. Ada satu buku khusus yang saya jadikan tempat untuk menulis cerpen dan puisi, satu buku lagi sebagai diary. Tekad sudah sangat bulat, saya ingin masuk ke FLP dan menjadi penulis. Banyak ide yang sudah digarap sedemikian rupa untuk dijadikan sebuah cerpen dan ingin saya kirim ke Annida, saya minta pendapat teman-teman terhadap cerpen-cerpen yang saya tulis, bahagia rasanya ketika mereka menyukai cerpen saya, walaupun memang masih banyak perbaikan yang harus dilakukan.

Ketika impian itu harus dikubur…
            “Kamu sebenarnya mau kuliah di jurusan Pendidikan Matematika atau Sastra? Kalau kamu mau jadi penulis, buat apa kamu kuliah?” tanya yang menohok terlontar dari anggota keluarga saya. Sampai di sini saya tidak mengerti, mana jalan yang harus saya pilih? Fokus memperlajari matematika atau belajar sastra secara otodidak?

            “Rurin, tolong fokus selesaikan tugas kakulus. Kamu tahu sendiri kan kalo dosen kalkulus kita tidak pernah memberi keringanan pada mahasiswa yang tidak mengumpulkan tugas? Nilaimu semakin menurun, tinggalkan dulu cerpen dan puisimu yah, untuk dirimu sendiri, Rin!” ujar sahabat saya yang tampak prihatin melihat nilai saya yang semakin menurun tiap semester.

            Keputusan berat memang harus dijalani, di semester tiga resmi saya kubur semua mimpi tentang FLP dan kepenulisan. Saya menenggelamkan diri saya sepenuhnya pada kalkulus, aljabar, aritmatika, sains, kependidikan dan organisasi.

Jatuh terlalu dalam…
            Seakan-akan waktu bergulir sangat lamban. Masuk semester enam saya mengalami stres, materi kuliah semakin susah. Bukan hal mudah bagi pengguna otak kanan seperti saya menjalani kuliah yang notabene harus menggunakan otak kiri. Jatuh bangun harus dijalani hanya untuk melihat angka 3,25 tetap ada di kartu hasil semester. Ditambah menghadapi teror yang dilakukan oleh oknum yang menganggap dirinya adalah makhluk suci dan makhluk lainnya hanyalah sampah.

            Organisasi kemahasiswaan yang saya masuki direcoki oleh organisasi islam ekstrem non kampus. Pemikiran-pemikiran radikal sudah mewarnai sebagian dari anggota organisasi kami. Saya dan teman-teman berjuang habis-habisan untuk menjaga organisasi kami dan hal ini sangat tidak disukai oleh anggota organisasi islam ekstrem itu. Alhasil, tiap saat saya diteror habis-habisan. Saya dan teman-teman saya dianggap sebagai anjing neraka yang tidak pantas masuk surga. Saya yang terlihat paling keras melawan mereka maka sayalah yang paling gencar diteror. SMS dan telepon silih berganti saya terima hanya berisi caci maki mereka.

            Tekanan bertubi-tubi mewarnai perjalanan saya di semester enam, itu cukup membuat saya meninggalkan semua hal yang saya fokuskan. Kuliah tak menentu, saya mundur dari semua organisasi yang saya masuki. Saya sudah tidak kuat.

Pelarian
            Banyak orang yang menganggap saya sombong setelah rentetan kejadian itu. Saya jarang berkumpul dengan teman-teman kuliah, jarang menampakkan senyum dan tidak menegur duluan. Trauma terhadap banyak orang, karena orang-orang yang sebelumnya saya anggap baik malah justru meneror saya habis-habisan.

            Banyak waktu yang saya habiskan di depan komputer. Belajar beberapa program pengeditan video dan foto. Ketika searching tentang teknik pengeditan foto, saya menemukan sesuatu yang sudah terkubur dalam-dalam…, FLP. Ragu menyeruak, masihkah ada semangat seperti dulu?

            Di Facebook saya beranikan diri untuk mencari akun FLP. Banyak akun FLP yang saya add, tak ketinggalan saya mencari akun FLP Bima tapi tidak ketemu. Hanya ada akun FLP Mataram. Hobi saya jika membuka facebook adalah membaca catatan-catatan teman, entah catatan yang hanya kesedar curcol sampai yang berisi jadwal kuliah, di antara deretan catatan aneh saya menemukan banyak info lomba menulis dari catatan Akhi Dirman, dengan sembunyi-sembunyi saya mengikuti lomba-lomba tersebut. Berteman dengan Akhi Dirman Al Amin merupakan awal keberanian saya mencari tahu kembali tentang FLP. Saya inbox beliau untuk menanyakan kapan ada perekrutan anggota baru FLP, karena setahu saya beliau ketua FLP NTB. Saya menanti dengan penuh harapan ketika beliau menjawab akan segera diadakan perekrutan.

            Sebulan menunggu tak juga ada kabar, enam bulan berlalu barulah saya menemukan pamflet perekrutan kader dari FLP NTB di mading kampus. Saking semangatnya ditambah lagi dosen sudah masuk ke ruangan, saya sobek saja pamflet itu dan saya masukkan ke dalam saku rok. Ketika masuk ruangan, saya mencari tempat strategis untuk membaca pamflet tanpa ketahuan dosen dan teman-teman.
            Kuliah selesai, dosen keluar ruangan dan tanpa menunggu lama saya SMS nomor kontak di pamflet untuk menanyakan kelanjutan pendaftaran. Beberapa hari berlalu, saya mendaftarakan diri dan saya bisa merasakan semangat itu berangsur-angsur muncul dan menjalar ke semua saraf tubuh, serasa jadi manusia baru. Tak ingin jauh-jauh dari FLP, saya bantu panitia menyebarkan pamflet ke kampus-kampus juga via SMS, rasa memiliki itu sudah hadir.

Ini tentang menggenapkan mimpi, tidak hanya pelarian.
            Sedikit demi sedikit belajar bersama dengan teman-teman FLP. Belajar menulis dan kembali berorganisasi, duduk melingkar membahas agenda kegiatan, saling mentransfer energi positif. Dengan adanya teman-teman FLP rasa kepercayaan diri saya semakin tumbuh, seperti katanya seorang teman, “Senyummu yang menghilang kembali hadir, Rin…”

            Dengan adanya anggota di Kota Bima, akhirnya terbentuk pula FLP cabang Kota Bima dan saya diamanahi menjadi ketua. Kepercayaan yang luar biasa di antara banyaknya tatapan sinis yang saya alami. Keterpurukan memudar, saya kembali dengan mimpi saya dulu menjadi bagian dari FLP. Takdir Allah memang selalu indah, memang belum pernah bertemu langsung dengan Mbak HTR, Bunda Pipit Senja, Mbak Asma Nadia, serta pejuang pena lain yang bernaung di FLP seluruh dunia, tapi semangat mereka sudah sampai di sini …, di relung hati paling dalam.

            Terima kasih, terima kasih untuk segala hal yang membuat saya bangkit dan terus menulis. Semoga Allah meridhoi tiap tinta yang kita gunakan untuk menulis kebaikan. Salam takzim untuk FLP, saya mencintaimu karena Allah.
“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan,” (QS. Al Qalam: 1)
***

4 komentar:

  1. Salam kenal mbak Rurin.

    Saya Abdullah Mabruri, teman FB dan sama2 suka menulis.
    Selamat berkarya, mbak! :D

    BalasHapus
  2. Salam kenal juga.
    Semangat berkarya yah ^_^

    BalasHapus
  3. terharuuuuu nanda...

    iya saya pernah keliling tanah airsepanjang 2005-2009; maka ketika itu 2006, ya, sebelum pergi haji sampailah saya di kawasan Bima Mbojo, eeh, di Sila inap di rumah Ju....eehe, pokoknya ada kutulis khusus kenangan lesehan bareng anak2 Bima termasuk dirman di buku saya yang terbaru dan baru saja keluar cetak; Orang Bilang Aku Teroris

    ya saya berusaha menyebar virus menulis ke seantero negeri dan beberapa negara tetangga, nyaris tanpa henti dan tak kenal pamrih,intinya saya tidakmeminta honor selangit,cukuplah asalkan buku saya dibeli dan mereka menyediakan tiket, acapkali saya cari sponsor ke penerbit2 islami...

    selamat berjuang ya; salam kreatif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bundaaaaa, peluuuukkkk... Love you coz Allah :)

      Hapus